Buddha Collapsed Out of Shame | Ajari Aku Membaca Bukan Perang

25 Aug 2011

Buddha Collapse

Biarkan aku pergi ke sekolah | Aku ingin pergi ke sekolah dan belajar cerita lucu | Aku tak mau bermain Permainan Batu | Pakaianku jadi kusut | Tanganku jadi kotor |

Aku terisak di dalam lubang tanah yang digali anak-anak Taliban. Mereka anak-anak nakal yang bermain perang-perangan meniru yang dilakukan orangtuanya. Pakaian mereka kusut. Wajah, rambut, dan tubuh mereka penuh debu. Mereka mencegatku ketika aku sedang pergi mencari tempat untuk belajar membaca; sekolah.

Aku ingin sekolah, ingin bisa membaca cerita lucu seperti yang dibacakan Abbas tetanggaku. Saban hari teriak-teriak saja dia itu. Di rumah, di jalan, dia selalu membaca buku dengan keras. Abbas yang menyuruhku menjual telur untuk membeli buku dan pensil. Katanya, kalau mau sekolah harus punya buku dan pensil.

Aku sudah ikut Abbas ke sekolahnya. Tapi disana hanya ada anak laki-laki dan guru laki-laki. Aku disuruh pergi oleh guru itu. Katanya aku bisa pergi ke sekolah anak perempuan di seberang sungai. Entah dimana itu. Tapi aku akan menuju kesana.

Malang, aku bertemu anak-anak nakal yang sukanya bermain perang batu.

Apa itu?
Buku
Untuk apa?
Untuk pergi ke sekolah
Perempuan tidak boleh pergi ke sekolah!

Dan mereka merebut buku tulisku. Buku yang kubeli dengan susah payah. Setelah aku beranikan diri keluar dari rumah guaku. Menyusuri tebing curam, menjual telur di pasar-yang sialnya 2 dari 4 telurku jatuh tersenggol seorang laki-laki yang tak peduli bahwa ia harus mengganti. Menukar sisa telur dengan roti. Dan akhirnya aku hanya bisa membeli buku. Tanpa pensil.

Tapi aku tak kurang akal. Kususuri lagi tebing dan kuambil lipstick ibu di rumah gua. Itu bisa jadi pengganti pensilku. Aku bisa sekolah. Aku sudah punya buku dan lipstick untuk menulis.

Dan sekarang, anak-anak nakal itu merobek bukuku. Dijadikannya pesawat kertas. Jika anak laki-laki tak bisa menghargai buku, mengapa hanya mereka yang boleh sekolah?

Lihat saja betapa mereka hanya bisa menghafal dan meniru. Mereka meniru bapaknya yang berperang. Menyekap anak-anak perempuan di gua dengan alasan yang meniru-niru bapaknya juga. Karena lipstick, karena bungkus permen karet bergambar pemain bola, karena cantik, karena mata seperti serigala, semua dituduhkan dengan kebencian pada Amerika.

Mereka menghafal segala yang dilihat dan dengar. Abbas mereka sebut ‘mata-mata Amerika’. Jebakan lubang lumpur yang menjerumuskan Abbas mereka sebut ‘cara Vietnam memperlakukan Amerika’. Karena meniru, menghafal, maka yang lain menjadi salah bila tak sama.

Abbas kena getah hafalan bebal itu. Kata berawalan A dijawab Abbas dengan Aab (air) tapi menurut mereka Amerika. B adalah Baba (ayah) bagi Abbas, tapi Buddha bagi mereka. N dijawab Abbas Nan(roti), tapi salah, bagi mereka N adalah No.

Begitulah mereka. Pun layang-layang putus disebutnya itu pesawat pembom Amerika. Lalu mereka saling melempar batu lagi. Seakan saling baku tembak dan mati. Hanya perang yang ada di benak mereka.

Abbas menangis marah. Menggerutu dan berlalu sambil membaca keras-keras. Seakan tak peduli bajunya basah kotor penuh lumpur. Bukunya pun ikut basah.

Aku juga meninggalkan anak-anak yang bermain perang batu itu. Kuambil buku yang sudah mereka injak-injak dalam perang-perangan. Kutinggalkan anak-anak lain yang disekap dalam gua dan tak berani melarikan diri. Aku tak takut, mereka hanya berpura-pura dan menakut-nakuti anak kecil. Aku tak takut. Aku ingin sekolah!

Kususuri tepian sungai dan bertemu seorang laki-laki yang memberitahuku dimana letak sekolah perempuan. Ia suruh aku mengikuti aliran sungai. Kubilang aku tak bisa. Laki-laki itu merobek bukuku, menjadikan kertasnya sebagai kapal-kapalan dan menghanyutkannya di sungai. Kapal itu indah. Ia memanduku hingga tiba di sekolah itu.

Aku senang sekali bisa sampai. Sekolah itu kecil saja. Laki-laki belajar di halaman sekolah. Tak ada yang peduli padaku. Entah apa yang mereka pelajari, asing terdengar di telingaku. Aku ingin belajar cerita lucu. Aku nekat saja masuk ke salah satu kelas.

Kelas itu berisi anak-anak perempuan. Aku mencari tempat duduk, tapi semua penuh. Tak ada yang mau berbagi denganku. Diusirnya aku oleh mereka. Tubuhku di dorong. Sampai menangis aku dijepit kursi oleh mereka. Tapi akhirnya ada juga yang mau berbagi kursi,namanya Zaenab. Dia minta syarat yang membuat aku berat hati. Dia minta kertas bukuku. Tentu aku tak rela karena isi bukuku tinggal sedikit setelah dibuat pesawat dan kapal kertas. Tapi Zaenab memaksa. Ia rebut bukuku. Aku menyerah. Dan aku dapat berbagi kursi dengannya .

Maka, kukeluarkan lipstick dan aku mulai meniru tulisan yang dibuat Bu Guru di papan tulis. Kacau, belum sampai satu bentuk kutiru, Zaenab merebut lipstick yang kupakai menulis. Ia mencoreng-coreng mukaku. Dan merambatlah coreng moreng itu ke seantero kelas. Bu Guru marah, aku ditanya siapa diriku. Kujawab namaku Bakhtay, dan aku kelas satu. Ternyata aku salah kelas.

Aku keluar. Kutemukan lonceng dan kupukul. Semua anak berhamburan ke luar kelas. Mereka pulang. Aku sendirian di sekolah itu. Maka aku duduk saja di salah satu kursi di halaman. Aku belajar cerita lucu. Belajar sendiri. Seperti yang dibaca Abbas. Aku sudah hafal.

Pria tidur di bawah pohon
Kacang jatuh di kepalanya
Dia bangkit dan berkata untung hanya kacang, kalau duren matilah aku

Aku sudah sekolah. Sudah belajar sendiri. Aku harus pulang.

Di jalan aku bertemu Abbas kembali. Dia mencariku. Ia tak boleh pulang jika tak bersamaku. Sial, anak-anak nakal itu menyergap kami lagi. Abbas pura-pura tertembak dan mati. Aku lari saja sekencangnya. Anak-anak itu mengejarku. Aku tak mau pura-pura mati. Kukatakan lagi pada mereka.

Aku tak suka main perang-perangan

Tapi mereka bersikeras. Katanya aku orang Amerika, teroris. Kalau aku tak bersedia mati aku tak boleh pulang.

Mereka suruh aku mati. Kubilang aku tak suka main perang-perangan.
Mereka anak-anak nakal!

Dikejauhan sayup kudengar teriakan Abbas, Bakhtay, matilah. Itu akan membebaskanmu

Dan, seperti saran Abbas, aku pun memilih tumbang. Membebas. Seperti Buddha. (20110825)

Judul : Buddha Collapsed Out of Shame
Produksi : 2007
Negara :
Durasi : 77 menit
Sutradara : Hana Makhmalbaf
Pemain : Hoseinali Abbas (Abbas Alijome), Bakhtay (Nikbakht Noruz)

INFO FILM
DOWNLOAD FILM

TENTANG BUDDHA BAMIYAN


TAGS Film Iran Film Anak-anak Film Buku Anak


-

Author

Follow Me