FIKSI | Karena Setiap Cerita Ada Akhirnya

29 Aug 2011

fiksi01 Buku itu tebal.Terselip di deretan buku-buku tebal psikologi. Sampulnya berwarna merah darah. Judulnya tertulis dengan tinta perak:Psychian Desk Reference. Dalam tubuh buku itu terdapat lubang kotak. Disana tersimpan pistol. Pistol yang menyemburkan darah ibu ke wajahku. Pistol yang disimpan ayah untuk melenyapkan ibu. Demi perempuan lain. Tapi ibu memilih melakukannya sendiri. Ia pergi bersama orok yang adikku. Kata ibu, kami bertiga akan bersatu di surga. Suatu saat aku harus melakukannya sendiri. Setiap kejadian ada tujuannya. Begitu kalimat terakhir dari ibu.

Kejadian kali pertama aku mendapatimu sedang membersihkan kolam renang, tak kutahu dimana tujuannya. Maka kuikuti dan kujalani saja kemana alur waktu membawa. Hingga aku telah berdiam sendiri di samping kamar yang kau sewa di rumah susun. Dan kau datang padaku bersebab wastafel mampet. Kemudian aku mengenalmu sebagai seorang penulis. Namamu Bari.

Renta: Baca donk isinya

Bari: Malas ah

Renta: Penulis kok ga suka baca

Bari: Aku baca kok

Renta: Ya tapi nggak pernah selesai

Bari: Eh denger ya, setiapkali aku baca buku bagus, aku selalu sirik ama tuh buku, dan ujung-ujungnya aku selalu pengin nulis

Alisa: Jadi kamu penulis?

Renta:Sama kayak baca buku, nulis juga dia gak pernah selesai

Bari: Suatu saat nanti ya .. buku aku tuh akan keluar, dengan judul di sampulnya New York Time Best Seller

Ya, kau penulis yang memilih tinggal di rumah susun. Katamu, rumah susun seperti sirkus. Penghuninya bermacam-macam dan aneh-aneh. Itu menjadi bahan tulisanmu. Tapi karena tokoh ceritamu masih hidup, kau tak bagaimana mengakhirinya. Memang kau bisa mengarang akhir ceritamu. Tapi kau tak mau. Kau ingin plotnya alami. Mungkin itu bedanya fiksi dan realita. Fiksi ada akhir. Realita,kehidupan berjalan terus.

Kau pun menunjukkan padaku bagaimana realita di sirkus rumah susun itu. Pada sebuah tur keliling kau jelaskan tentang penghuni di setiap lantai.

Lantai 1 adalah pusatnya kebutuhan sehari-hari. Lantai 2 paling ramai, dihuni keluarga biasa. Lantai 3 tempatnya para transeksual. Lantai 4 gudangnya pengedar narkoba. Lantai 5 ditempati para penjaja seks high class. Lantai 6 kebanyakan penghuninya mahasiswa dan karyawan. Lantai 7 komunitasnya para Gay. Lantai 8 umumnya tempat sembunyi para istri simpanan. Lantai 9 tak berpenghuni. Konon kata orang lantai itu dihuni arwah yang gentayangan. Orang-orang yang mati penasaran ketika rumah mereka dibakar dan tanahnya buat membangun rumah susun. Di ruang-ruang yang seperti kandang kelinci itu lah tokoh-tokoh ceritamu bermula.

Cerita pertama. Seorang laki-laki tua yang tak pernah mau masuk ke biliknya sejak 5 tahun lalu. Dia adalah warga yang rumahnya digusur untuk membangun rumah susun. Sebagai kompensasi, dia mendapat satu kamar. Dalam ceritamu, dia tak mau masuk karena mempertahankan prinsip. Kalau ia masuk ia merasa kalah, dan mereka memang. Mereka, orang-orang yang menggusur rumahnya.

Cerita kedua. Perawan tua umur 65 tahun bernama Dirah. Ia hidup bersama kucing-kucingnya. Tak pernah keluar kamar selain untuk membuang sampah. Dalam ceritamu, Bu Dirah pernah punya tunangan. Dia sangat mencintainya.Tapi mati dibunuh. Disamping mayatnya ada kucing. Dianggaplah kucing itu penjelmaan tunangannya. Kucing-kucing itu adalah anak mereka.

Cerita ketiga. Rudi dan Dani. Pasangan gay yang juga merupakan bapak-anak. Mereka berdua menyimpan rahasia itu dari ibunya Dani.

Semua cerita itu belum ada akhirnya. Meski kau bisa saja mereka-reka, tapi kau tak mau. Kau ingin cerita dan plotnya nyata. Maka aku pun penasaran. Kuminta kau ijinkan membaca cerita yang sudah kau tulis itu.

Dan aku tenggelam dalam ceritamu. Pikiran dan imajinasiku melompat-lompat. Pun ketika kudengar lenguh kepuasan di malam buta dari kamarmu. Aku terdorong untuk semakin mendekat padamu. Kata ibuku, semua kejadian ada tujuannya.

Aku hanya bermaksud membantumu menemukan tujuan cerita yang kau tulis. Memberi akhir dari kisahmu. Tak kusangka kejadiannya demikian tragis. Ibu Dani datang ke pesta gay di lantai 7. Dia menembak suaminya. Aku ada di tempat itu. Terguncang!

Kau menghampiriku. Aku masih tergagu dengan penembakan yang baru saja kusaksikan. Kau memelukku erat. Memberi penguatan mungkin maksudmu. Tapi aku berahi. Kau menolak. Kupaksa lagi. Kau beranjak pergi. Kucegah secepat kilat. Dan aku mendapatkanmu. Kita beradu hasrat. Aku madah. Darah perawan tersisa di kasurku.

Kau kemudian menghindar dariku. Ketika kucari tahu ke kamarmu, ternyata kau sedang menulis. Kata teman perempuanmu, begitu ada kejadian tragis kau langsung dapat ide. Kalau sudah menulis kau jadi autis.

Aku rindu kau. Kuiringi kau menulis dengan gesekan celloku. Cello itu juga yang pernah memanggilmu datang ke kamarku dulu. Malam demi malam. Saat hujan, kau pun datang. Kita madah lagi pada hasrat.

Adalah cinta yang mendorongku untuk terus membantumu menyelesaikan ceritamu. Kucing-kucing Bu Dariah lepas, ditemukan mati di tempat sampah lantai dasar. Perawan tua itu mati. Terjun dari lantai 7. Kau pun curiga aku terlibat.

Kau semakin lebih menghindar lagi. Kukirim darah yang melekat di spreyku. Aku meneror kesadaran dan keberanianmu. Tak dapat kutahan perasaanku lebih lama. Aku tak bisa diam setelah semua yang terjadi antara kita. Maka kukatakan padamu, aku sayang padamu. Aku tak mau menuntut apa-apa. Cuma mau bilang supaya kamu tahu.

Kau berkeras akan bilang ke Renta tentang kita. Katamu kau sayang padanya. Kau berharap ada keajaiban dia memaafkanmu. Kuingatkan, seharusnya prioritasmu bukan Renta tapi cerita-ceritamu sendiri. Tapi kau bilang kau benci cerita-ceritamu sendiri. Semua berakhir klise. Dan yang paling klise adalah ceritamu tentang dirimu sendiri. Laki-laki yang sudah punya pasangan tapi masih berhubungan dengan perempuan lain.

Sudah kubilang kau tak perlu beri tahu Renta tentang kita. Tapi kau berkeras. Aku terpaksa menghilangkan Renta untuk sementara. Hanya untuk membantumu menyelesaikan cerita yang sudah kau tulis.

Aku duduk di atas tikar. Tikar yang sama yang telah kududuki selama lima tahun. Disini, di depan kamar rumah susunku. Bukan, bukan kamarku. Kalau aku mengakui bahwa ini adalah kamarku, berarti aku kalah dan mereka menang.

Mereka membakar rumahku lima tahun yang lalu. Mereka mengambil tanah kami ntuk membangun rumah susun ini. Mereka tidak memberi ganti rugi. Mereka hanya memberiku sebuah kamar di lantai 7 yang tidak akan pernah bias menggantikan rumahku yang lama. Bukan karena rumahku dulu adalah rumah yang besar, tapi aku membangunnya dengan tanganku sendiri. Adikaryaku. Satu-satunya adikarya yang pernah kupunya.

Pernikahanku tidak sekali bukan sebuah adikarya. Istriku bodoh. Aku bodoh. Kami bahkan tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi. Kami tidak pernah bersekolah. Mungkin karena itu, ketiga anakku juga bukan adikarya. Anak laki-lakiku yang paling besar kini menghilang. Dia menikam orang sampai mati ketika berumur 14 tahun. Dan dipenjara. Aku tidak tahu apakah dia sudah dibebaskan atau belum.

Anakku yang kedua, tinggal di rumah, selalu di rumah. Tidak pernah pergi ke luar atau melakukan apa-apa. Dia tidak bekerja, tidak sekolah. Dan tidak ada satupun anakku yang pernah sekolah.

Mungkin karena itu, anakku yang ketiga, perempuan, mungkin dia yang bias mendekati sebuah adikarya. Senyumnya manis, kulitnya bersih. Sekalipun tidak pernah melakukan perwatan muka. Perawatan muka apa, keluargaku makan saja sulit. Sebentar lagi anak perempuanku bakal pulang. Dia telah menemukan jodohnya. Seorang tukang ojek yang juga punya gerobak untuk menjual gorengan. Anakku akan jadi orang. Hidupnya akan jadi lebih baik. Hari ini, pacarnya dan keluarganya akan datang untuk meminang anakku.

Istriku dari pagi berusaha untuk membuatku masuk.

Masuk dulu kenapa sih? Ini buat anak eloe. Nanti kalau keluarga pacarnya sudah pulang, eloe bias duduk di situ lagi,

Atau pergi kamana gitu dulu gih, nanti kalau mereka udah pada pulang, baru balik lagi, kata anakku.

Mereka tak akan mengerti. Tidak ada orang yang bisa mengerti. Kecuali anak perempuanku. Cuma dia yang memahami aku. Aku yakin dia tidak akan menyuruhku masuk. Aku yakin dia tidak akan malu.

Waktunya semakin dekat. Sebentar lagi anak perempuanku akan datang. Aku tidak sabar untuk melihatnya. Dia tadi pergi ke salon. Kunjungan yang pertama.

Itu dia. Ah dia cantik sekali. Jauh lebih cantik dari biasanya. Dia memang adikaryaku. Yang paling memahami aku. Aku yakin dia tidak akan keberatan aku terus duduk di tikarku.

Pak, masih disini aja? Mau bikin aku malu? Mau bikin calon mertuaku kabur?

Itu orang tua bisa dipaksa masuk enggak sih?

Blak! Dia menutup pintu dengan keras.

Aku yakin dia begitu karena hari ini adalah hari terpenting dalam hidupnya. Aku tidak boleh egois. Aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa. Kalau aku masuk berarti aku kalah, dan mereka menang.

Apa yang harus aku lakukan? Apa? Badanku terasa lemah, aku tak sanggup lagi berjalan jauh. Kalau aku masih di sekitar sini mereka akan melihatku, dan anak perempuanku akan malu. Apa yang harus aku lakukan?Apa?

Pembatas ini tidak terlalu tinggi. Mungkin aku bisa memanjatnya. Badanku kini sangat ringan.

Kini aku sudah ada diatasnya. 123 segalanya terasa seperti dalam gerakan lambat. Aku melayang. Mungkin karena badanku terlalu ringan. Apakah aku kalah. Apakah aku menang? Yang aku tahu tidak ada seorangpun yang akan kehilangan diriku.

Satu cerita telah usai, Bari. Sekarang tinggal kisah tentang kita. Aku melakukan semuanya karena perasaan yang kuat padamu. Aku terseret ke rumah susun ini, meninggalkan kemewahan orangtuaku, demi kamu. Sosok asing yang membiusku dengan asing. Padamu kuserahkan keperawananku.

Kau menemukan akhir kisah ini juga karena perasaanmu yang kuat pada Renta. Maka kau layak bahagia dengannya. Aku pergi menemui ibu dan adikku, dengan caraku. Begitu agar ceritamu berakhir tragis, seperti yang sudah-sudah. Klise memang. Tapi semua yang terjadi ada tujuannya. Semua cerita ada akhirnya.

Selamat, Bari… Bukumu telah terbit (Diana AV Sasa)

Judul : Fiksi

Produksi : Juni 2008

Sutradara: Mouly Surya

Penulis: Joko Anwar

Pemain: Ladya Cheryll (Alissa), Doni Alamsyah (Bari)


TAGS Film Indonesia Film Tentang Penulis


-

Author

Follow Me