• 4

    Oct

    VIRGIN 1 : Kisah Novel dan Keperawanan

    Pada pribadi-pribadi yang mengalami tekanan mental, menulis adalah salah satu jalan keluar dari kejumudan berpikir. Demikianlah Biyan (Laudya Chintya Bella) melumerkan kejumudan pikiran dan jiwanya dalam film buku garapan Hanny R saputra bertajuk Virgin:Ketika Keperawanan Dipertanyakan (2004). Dengan menulis catatan harian, Biyan menemukan jalan mencurahkan uneg-uneg batin dan pikiran atas ruwetnya lingkup kehidupannya. Keluarga yang tak utuh, persahabatan yang ironis, dan percintaan yang penuh persaingan tak sehat. Terlalu pahit bagi remaja seusia Biyan yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas untuk menerima kenyataan papanya bercinta dengan perempuan lain di rumahnya sendiri ketika mamanya (Henidar Amroe) dalam kondisi depresi. Jalan yang dipilihnya adalah kabur dari rumah. Tem
  • 13

    Sep

    MISS POTTER | Berharta dari Menulis Cerita Anak

    Setiap buku memiliki jodohnya. Penerbit bisa saja meragukan akan nasib nilai jual sebuah buku. Pembacaan mereka terhadap selera pasar memberi kuasa atas ketersediaan bacaan. Tapi pembaca punya seleranya sendiri. Dan prediksi penerbit tak selalu mampu menjangkaunya. Nasib buku anak-anak bergambar yang ditulis Beatrix Potter membuktikan itu. Penerbit Warne Brothers menggangap karyaa Beatrix sebagai sebuah kekonyolan. Pasar tak akan menerima, dan buku itu akan gagal. Mereka menerima blue print buku konyol itu semata karena mereka harus memberi proyek untuk dikerjakan adik terkecil di perusahaan keluarga itu, Norman Warne. Sebagai orang yang tak pernah berurusan dengan buku sebelumnya, Norman tak lantas memandang proyek buku Beatrix sebagai hinaan melainkan tantangan. Ia ingin membuktikan b
  • 9

    Sep

    MEREKA BILANG,SAYA MONYET! | Siapa yang Monyet Sebenarnya?

    Monyet! Sahabat-sahabatku bilang penulis senior pacarku itu tolol. Buatku, mereka yang tolol. Seenaknya saja mengkritik orang. Tau apa mereka semua. Tahu tidak rasanya sudah capek-capek nulis sampai kepala mau pecah tapi dapat reaksinya cuma sampah. Mereka tahu tidak rasanya punya cowok yang tak bisa diandalkan? Boro-boro ngomongin soal tulisan, minta waktunya saja susah. Aku tak pernah minta yang macam-macam. Aku tak pernah nyuruh dia untuk ceraikan bininya. Tapi aku selalu dimarahi kalau aku pacaran sama cowok lain. Tidur sama cowok lain. Apa itu fair buatku? Monyet! Ibu menyuruhku menelan kembali sayuran yang sudah aku muntahkan di bibir toilet. Gak suka sayuran? Jadi hanya karena alasan gak suka, kamu tega bohongin Mommy? Mommy gak suka orang yang suka bohong. Bohong itu bukan takut.
  • 29

    Aug

    FIKSI | Karena Setiap Cerita Ada Akhirnya

    Buku itu tebal.Terselip di deretan buku-buku tebal psikologi. Sampulnya berwarna merah darah. Judulnya tertulis dengan tinta perak:Psychian Desk Reference. Dalam tubuh buku itu terdapat lubang kotak. Disana tersimpan pistol. Pistol yang menyemburkan darah ibu ke wajahku. Pistol yang disimpan ayah untuk melenyapkan ibu. Demi perempuan lain. Tapi ibu memilih melakukannya sendiri. Ia pergi bersama orok yang adikku. Kata ibu, kami bertiga akan bersatu di surga. Suatu saat aku harus melakukannya sendiri. Setiap kejadian ada tujuannya. Begitu kalimat terakhir dari ibu. Kejadian kali pertama aku mendapatimu sedang membersihkan kolam renang, tak kutahu dimana tujuannya. Maka kuikuti dan kujalani saja kemana alur waktu membawa. Hingga aku telah berdiam sendiri di samping kamar yang kau sewa di r
  • 26

    Aug

    JULIE AND JULIA | 365 Hari, 524 Resep

    Julie Powell dan Julia Child, adalah dua perempuan beda generasi dengan kecintaan yang sama: memasak dan menulis. Mereka bersua dalam sebuah petualangan cita rasa masakan Prancis melalui sekumpulan resep dalam: Mastering the Art of French Cooking. Mastering the Art of French Cooking adalah buku yang berisi 524 resep masakan Prancis. Disusun oleh Julia Child dan 2 orang karibnya pada tahun 1961. Julia adalah seorang istri diplomat Amerika di Prancis. Ia tak punya keturunan. Hiburannya sehari-hari adalah memasak. Ia menunjukkan cintanya pada suaminya dengan menciptakan masakan yang nikmat saban hari. Utamanya masakan Prancis. Untuk itu dia tak main-main, kursus pun dijabaninya. Setiap resep yang berhasil dibuat kemudian diketik dan dikumpulkan. Begitu orisinil resep-resep itu karena saat
  • 24

    Aug

    FINDING FORRESTER | Tulis Saja, Jangan Berpikir!

    Mulai lah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis dulu. Tulis draft pertamamu itu dengan hati. Baru nanti kau akan menulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir. Itu adalah pelajaran pertama Jamal Wallace dari seorang penulis terkenal yang hanya menerbitkan satu buku kemudian menghilang, dan meraih Pulitzer, William Forrester. Pelajaran pertama yang mengasah bakat menulis Jamal hingga menjadi penulis yang berkarakter. Karakter yang ia temukan setelah menemukan serangkaian latihan demi latihan di kamar William. Khas Jamal yang menemukan titik setelah di caci maki Profesor di sekolahnya. Karya yang ditulis dengan hati. Jamal adalah seorang kulit hitam yang tumbuh menjadi remaja di lingkungan Bronx. Kawasan ras kulit hi
  • 23

    Aug

    IL Postino: Persahabatan, Cinta, Puisi,dan Politik

    Puisi itu terangkai seperti ini: Di pulai ini, laut Semuanya laut Mengombak dari waktu ke waktu Berkata ya, lalu tidak, Lalu tidak Dalam biru, dalam buih, dalam cangkang Berkata tidak, lalu tidak Tak pernah tenang Laut namaku, ulangnya Menerjang karang Tanpa keyakinan Lalu dengan tujuh lidah hijau dari tujuh macan hijau Dari tujuh lautan hijau Membelainya, mencumbunya, membasuhnya dan menumpahkan di dadanya Seraya menyebut namanya, aku lah laut Sebait sajak tentang laut itu ditulis oleh seorang Senator yang juga Diplomat ulung di Partai Komunis di Chili. Seorang peraih nobel Kesusastraan dan pujangga paling diperhitungkan di abad 20,Pablo Neruda namanya. Mari simak puisi kedua ini, Senyummu menebar di wajahmu serupa kupu Senyummu serupa mawar Sebatang galah yang menghujam, debur air Se
  • 21

    Aug

    Quills: Hanya Satu Kata: Merdeka!

    Menulis, bagi seorang penulis adalah ekspresi kebebasan. Penyaluran inspirasi tanpa batas. Ungkapan kejujuran hakiki. Maka jangan sekali-kali mengekangnya. Karena hasrat itu semakin dihadang akan semakin meradang. Bahkan menggila melebihi batas nalar. Kungkungan dan siksa tak kan mampu menghentikannya. Ini cerita tentang Homo Perversio, manusia yang bertahan dalam kurungan. Adalah Marquis de Sade, seorang penulis yang dikurung dalam Rumah Sakit Jiwa, The Charenton Asylum for The Insane. Sade dijebloskan dalam Asylum karena tulisan-tulisannya yang mengumbar erotisme dianggap menghina orang-orang beradab pada masa itu. Masa dimana Napoleon Bonaporte berkuasa di Perancis dan budaya Aristokrat menjadi panglima. Tulisan sade yang vulgar dan mengungkap sisi liar mereka sebagai manusia adalah pe
-

Author

Follow Me